. Hubungan Indonesia-Australia
- Latar Belakang
Hubungan Indonesia-Australia
tergolong hubungan yang sangat unik, di satu sisi menjanjikan berbagai peluang
kerjasama namun di sisi lain juga penuh dengan berbagai tantangan. Kondisi ini
di sebabkan oleh berbagai perbedaan mencolok diantara kedua bangsa dan Negara
bertetangga, yang terkait dengan kebudayaan, tingkat kemajuan pembangunan,
orientasi politik yang mengakibatkan pula perbedaan prioritas kepentingan.
Tidak di pungkiri, perbedaan-perbedaan tersebut akan menciptakan berbagai
masalah yang akan selalu mewarnai hubungan kedua negara di masa-masa mendatang.
Kalau
kita tinjau orientasi hubungan luar negeri antara Indonesia dan Australia jelas
berbeda karena pandangan dan filsafat mereka juga berbeda. Indonesia adalah
suatu negara yang sedang berkembang dan menganut prinsip Non-Blok serta
independen. Sedangkan Australia adalah suatu negara industri maju dan merupakan
sekutu penting Amerika Serikat. Adanya perbedaan itu bisa dipahami karena baik
Indonesia maupun Australia menganut sistem politik yang berbeda dan
konsekuensinya akan timbul perbedaan dalam cara memandang hubungan politik
mereka dalam konteks perubahan dan isu-isu yang muncul.
Namun
demikian pada tingkat tertentu di antara kedua negara mempunyai perhatian yang
sama dalam mengusahakan tata internasional baru yang berdasarkan perdamaian,
kemanusiaan, dan keadilan sosial. Dialog Utara-Selatan merupakan salah satu
contoh, persamaan pandangan ini memberi suatu landasan bagi kerjasama yang
lebih luas antara Indonesia dan Australia bagi kestabilan regional. Secara
bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia mampu menciptakan
ketahanan regional di kawasan Asia Tenggara sehingga mempunyai arti penting
bagi keamanan Australia. Sebaliknya Australia dapat memainkan peran penting di
lingkungan kawasan terdekatnya, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik Selatan,
sehingga akan memberi kontribusi penting bagi keamanan Indonesia dan Asia
Tenggara.
- Hubungan Indonesia-Australia (2000-2007)
Berkaitan
dengan lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1999, pemerintah kedua
negara telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ketegangan hubungan yang
di timbulkan dari ’campur tangan’ Australia di bekas provinsi Indonesia
tersebut. Dalam rangka mencapai suatu tahapan hubungan yang sehat, dewasa dan
berkesinambungan, di tandai dengan kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke
Australia, bulan Juni 2001. Dan di ikuti kunjungan Perdana Menteri John Howard
ke Indonesia, bulan Agustus 2001. Pada kesempatan kunjungan tersebut, kedua
belah pihak menggarisbawahi pentingnya membangun rasa saling percaya dan saling
pengertian serta mengembangkan dialog guna memperkuat ikatan antar dua bangsa.
Kedua pemimpin juga menegaskan kembali keinginan untuk memperbaiki hubungan
melalui berbagai kerjasama di berbagai bidang.
Pada
tahun 2002, Perdana Menteri John Howard menyatakan bahwa pemerintah Australia
akan selalu siap membantu Pemerintah RI keluar dari krisis ekonomi dan
menegaskan dukungan penuh Pemerintah Australia terhadap integritas dan keutuhan
wilayah RI, yang sekaligus mementahkan harapan sementara kalangan yang
mengharapkan dukungan Australia untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). Kedatangan Perdana Menteri John Howard bersama beberapa
Kepala negara / Pemerintah negara sahabat sahabat pada tanggal 19-20 Oktober
2004 dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
sesuatu yang baru pertama kalinya sepanjang sejarah Indonesia, itu berarti
Pemerintah Australia menaruh perhatian yang besar terhadap setiap perkembangan
yang terjadi di Indonesia.
Indonesia
dan Australia bersama-sama menyelenggarakan ’Ministerial Conference on Counter
Terrorism’ yang dihadiri para menteri negara-negara kawasan. Salah satu
hasilnya yaitu ’Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation’ yang tujuan
utamanya adalah untuk meningkatkan kemampuan operasional para petugas penegak
hukum di kawasan guna memerangi transnational crime, khususnya terorisme.
Hubungan
Indonesia-Australia dalam empat tahun terakhir ini telah menunjukan kemajuan
yang signifikan, yaitu dengan diciptakannya hubungan yang semakin realistik
berdasarkan kerja sama kelembagaan dan saling kunjung di antara pejabat tinggi
masing-masing pemerintahnya. Kunjungan-kunjungan ini merupakan wujud
peningkatan hubungan diplomatik ke arah yang lebih baik. Peningkatan ini
sekaligus menjadi tanda bahwa kedua negara memasuki fase realisme positif.
Artinya, meskipun hubungan kedua negara masih di liputi perbedaan-perbedaan
yang dalam memandang sebuah persoalan, tetapi secara umum perbedaan tersebut
dapat di selesaikan melalui meja perundingan
Indonesia-Australia
kembali mengukuhkan kerjasama keamanan dalam bentuk Framework Agreement on
Security Cooperation yang di tanda tangani di pulau Lombok pada 13 November
2006, penandatanganan kerja sama keamanan Indonesia-Australia di Pulau Lombok
bukan tanpa makna, karena dari aspek strategis Selat Lombok merupakan jalur
yang dapat mempengaruhi keamanan nasional Australia.
B. Hubungan Indonesia-Malaysia
- Latar Belakang
Hubungan
Indonesia dan Malaysia yang terus pasang surut terus menjadi sinyal penting bagi perlunya refleksi terhadap
kebijakan politik luar negeri Bebas Aktif, dalam berbagai perselisihan dengan
Malaysia, Indonesia tidak terlihat aktif dalam mengambil peran. Sikap yang
cenderung pasif itu membuat Indonesia tidak memperlihatkan dirinya sebagai
negara besar. Krisis multidimensi yang belum juga teratasi tidak boleh di
jadikan alasan untuk membiarkan kedaulatan Indonesia di cabik-cabik.
Kemiripan
etnis, nasib, agama, bahasa, serta posisi geografis yang bersebelahan
menjadikan keduanya merasa sebagai saudara yang harus saling menolong. Dalam
komunitas ASEAN sendiri Indonesia di anggap sebagai saudara tua, tapi kini
saudara tua itu terlalu banyak mengalah. Sementara adik-adiknya berkembang
sedemikian pesatnya hingga jauh meninggalkan sang kakak. Sikap mengalah
Indonesia, di manfaatkan Malaysia untuk mengambil keuntungan, meskipun harus
melupakan pranata sosial dalam hubungan persaudaraan. Ketika Indonesia jatuh
dalam kesulitan, bukannya Malaysia berusaha menolongnya, melainkan
memanfaatkannya.
- Hubungan Indonesia-Malaysia (2000-2007)
Pada
waktu kemeriahan Hari Ulang Tahun Malaysia ke-50, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono memilih membatalkan kehadirannya untuk menghadiri upacara penting
itu. Semasa itu, hubungan Indonesia-Malaysia sedang hangat merebak isu
pemukulan juru latih Indonesia oleh anggota polisi ketika menghadiri kejuaraan
di Negeri Sembilan. Isu ini bertambah panas apabila timbul salah faham mengenai
permohonan maaf dari Malaysia.
Demonstrasi
dan ancaman menghapus rakyat Malaysia merebak ke pelbagai daerah di republik
ini. Akibat isu ini juga, beberapa program yang melibatkan kedua pihak
Indonesia dan Malaysia terpaksa di batalkan atau di tangguhkan sementara
menunggu keadaan kembali reda. Selepas lebih empat bulan dan keadaan kembali
reda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewakili 240 juta penduduk Indonesia memenuhi
agenda tahunan pertemuan pemimpin peringkat tertinggi Malaysia-Indonesia.
Kemiskinan
ini telah memberikan andil mengantarkan anak-anak bangsa terpaksa hijrah
sementara ke Malaysia sekadar menyambung hidup, dan rela menjadi pembantu atau
buruh. Entah kebijakan apalagi yang akan di lakukan oleh Malaysia kepada warga
Indonesia yang berada di sana. Derita demi derita terus terjadi dengan
intensitas yang semakin meningkat, kasus Bonar dan Ceriyati telah cukup
menggambarkan duka mendalam anak bangsa ini dalam upaya meraih sesuap nasi.
Hubungan
dua saudara ini sekarang banyak di warnai oleh pola penganiayaan lantaran
Indonesia di anggap lebih rendah sebagai sesama manusia. Merebaknya penggunaan
kata Indon (yang tentu saja berkonotasi rendah) dan kasus kekerasan adalah
salah satu wujud dari anggapan ini. Jelas hal ini bukanlah refleksi sebagai
saudara. Tampaknya, paguyuban sebagai sokoguru dalam persaudaraan telah di
buang jauh, dan di ganti dengan prinsip patembayan, sebuah hubungan yang
impersonal, di mana sebuah masalah yang muncul di selesaikan atas dasar prinsip
hukum formal yang berlaku. Padahal mestinya hubungan persaudaraan menghendaki
paguyuban dan penyelesaian masalah berasas pada kekeluargaan dan saling
memahami.
Arogansi
Malaysia tidak dapat di tutupi lagi dengan kata-kata apologis, terlebih lagi
ketika kasus-kasus kekerasan serupa menimpa para duta bangsa, apakah itu wasit
Donald Luther Colopita atau keluarga duta bangsa yang lain, yang semestinya
mendapatkan perlindungan dan kekebalan diplomatik. Kini muncul pula kasus batik
dan lagu Rasa Sayange yang kini justru menjadi lagu resmi promosi pariwisata
Malaysia. Kerikil-kerikil dalam hubungan bilateral ini ternyata telah menyulut
konflik horizontal antara masyarakat Indonesia dan Malaysia meski baru sebatas
saling lempar kata.
Kunjungan
kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Malaysia membuahkan beberapa
kesepakatan dengan Perdana Menteri Malaysia. Kedua pemimpin pun sepakat untuk
mengakhiri pertikaian yang ada menyangkut sejumlah isu kontroversial yang
selama ini mengganjal hubungan kedua negara.
Isu
penting pertama adalah tuduhan bahwa Malaysia
mencuri budaya Indonesia.
Untuk masalah ini di putuskan
Indonesia dan Malaysia akan membentuk dewan khusus beranggotakan tujuh orang
dari masing-masing negara. Dewan ini akan membahas isu tersebut lebih lanjut
dengan mengutamakan persamaan bukan perbedaan sebagaimana imbauan PM Badawi.
Isu penting kedua yaitu menyangkut tenaga kerja Indonesia di Malaysia, untuk
masalah ini Badawi memastikan adanya peningkatan kualitas perlindungan hukum.
Selain itu, Indonesia dan Malaysia juga sepakat membentuk komite kerja sama
untuk meningkatkan perdagangan dan penanaman modal yang di ketuai Menteri
Perdagangan kedua negara.
C. Kesimpulan
Pasang surut hubungan Indonesia-Australia di
pengaruhi kepentingan politik Australia,
yang merupakan sektor penting bagi dunia Barat di Asia-Pasifik dan Perbedaan
sistem politik antara kedua negara, pandangan dan filsafat mereka juga berbeda.
Walaupun sebenarnya antara Indonesia dan Australia saling memiliki kepentingan
strategis, dan terpeliharanya hubungan bilateral yang lebih baik dengan
Australia akan ikut membantu membentuk stabilitas politik dan keamanan di
kawasan Asia Tenggara. Tetapi kepentingan strategis Australia di sini adalah
menghendaki Australia memiliki akses kuat dan luas di Asia, bahkan bertujuan
memiliki posisi dominan di Asia Tenggara. Kedekatannya dengan Asia, akan lebih
mendukung kepentingan Australia sebagai bagian dari strategi global Barat di
kawasan Asia-Pasifik.
Berbeda
dengan hubungan antara Indonesia-Malaysia, pasang surut hubungan tersebut
banyak di pengaruhi karena perasaan satu rumpun konon kedua bangsa ini di ikat
dengan ikatan persaudaraan. Kemiripan etnis, agama, bahasa, serta posisi
geografis yang bersebelahan menjadikan keduanya merasa sebagai saudara yang
harus saling menolong. Dengan keadaan seperti ini sangatlah mudah terjalin
suatu hubungan yang harmonis maupun tidak, karena anggapan satu rumpun itu,
suatu kebudayaan akan dapat dengan mudah di akui sebagai kebudayaannya.
Kejadian seperti ini dapat menimbulkan suatu konflik antar negara. Tetapi
apabila suatu hubungan tersebut dapat tercipta dengan baik maka akan tebentuk
sebuah kerjasama dua saudara yang saling tolong-menolong sebagai seorang saudara.
DAFTAR PUSTAKA
Irsan, Abdul, 2007, Indonesia di Tengah Pusaran Globalisasi, Jakarta : Grafindo
Fernandes, S. Frans, 1988, Hubungan Internasional dan Peranan Bangsa Indonesia Suatu Pendekatan Sejarah, Jakarta :
Depdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar