Kamis, 29 Desember 2011

PERBANDINGAN HUBUNGAN INDONESIA-AUSTRALIA DAN INDONESIA-MALAYSIA (2000-2007)


. Hubungan Indonesia-Australia
  1. Latar Belakang
            Hubungan Indonesia-Australia tergolong hubungan yang sangat unik, di satu sisi menjanjikan berbagai peluang kerjasama namun di sisi lain juga penuh dengan berbagai tantangan. Kondisi ini di sebabkan oleh berbagai perbedaan mencolok diantara kedua bangsa dan Negara bertetangga, yang terkait dengan kebudayaan, tingkat kemajuan pembangunan, orientasi politik yang mengakibatkan pula perbedaan prioritas kepentingan. Tidak di pungkiri, perbedaan-perbedaan tersebut akan menciptakan berbagai masalah yang akan selalu mewarnai hubungan kedua negara di masa-masa mendatang.
            Kalau kita tinjau orientasi hubungan luar negeri antara Indonesia dan Australia jelas berbeda karena pandangan dan filsafat mereka juga berbeda. Indonesia adalah suatu negara yang sedang berkembang dan menganut prinsip Non-Blok serta independen. Sedangkan Australia adalah suatu negara industri maju dan merupakan sekutu penting Amerika Serikat. Adanya perbedaan itu bisa dipahami karena baik Indonesia maupun Australia menganut sistem politik yang berbeda dan konsekuensinya akan timbul perbedaan dalam cara memandang hubungan politik mereka dalam konteks perubahan dan isu-isu yang muncul.
            Namun demikian pada tingkat tertentu di antara kedua negara mempunyai perhatian yang sama dalam mengusahakan tata internasional baru yang berdasarkan perdamaian, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Dialog Utara-Selatan merupakan salah satu contoh, persamaan pandangan ini memberi suatu landasan bagi kerjasama yang lebih luas antara Indonesia dan Australia bagi kestabilan regional. Secara bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia mampu menciptakan ketahanan regional di kawasan Asia Tenggara sehingga mempunyai arti penting bagi keamanan Australia. Sebaliknya Australia dapat memainkan peran penting di lingkungan kawasan terdekatnya, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik Selatan, sehingga akan memberi kontribusi penting bagi keamanan Indonesia dan Asia Tenggara.

  1. Hubungan Indonesia-Australia (2000-2007)
            Berkaitan dengan lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada tahun 1999, pemerintah kedua negara telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi ketegangan hubungan yang di timbulkan dari ’campur tangan’ Australia di bekas provinsi Indonesia tersebut. Dalam rangka mencapai suatu tahapan hubungan yang sehat, dewasa dan berkesinambungan, di tandai dengan kunjungan Presiden Abdurrahman Wahid ke Australia, bulan Juni 2001. Dan di ikuti kunjungan Perdana Menteri John Howard ke Indonesia, bulan Agustus 2001. Pada kesempatan kunjungan tersebut, kedua belah pihak menggarisbawahi pentingnya membangun rasa saling percaya dan saling pengertian serta mengembangkan dialog guna memperkuat ikatan antar dua bangsa. Kedua pemimpin juga menegaskan kembali keinginan untuk memperbaiki hubungan melalui berbagai kerjasama di berbagai bidang.
            Pada tahun 2002, Perdana Menteri John Howard menyatakan bahwa pemerintah Australia akan selalu siap membantu Pemerintah RI keluar dari krisis ekonomi dan menegaskan dukungan penuh Pemerintah Australia terhadap integritas dan keutuhan wilayah RI, yang sekaligus mementahkan harapan sementara kalangan yang mengharapkan dukungan Australia untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedatangan Perdana Menteri John Howard bersama beberapa Kepala negara / Pemerintah negara sahabat sahabat pada tanggal 19-20 Oktober 2004 dalam rangka menghadiri pelantikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sesuatu yang baru pertama kalinya sepanjang sejarah Indonesia, itu berarti Pemerintah Australia menaruh perhatian yang besar terhadap setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia.
            Indonesia dan Australia bersama-sama menyelenggarakan ’Ministerial Conference on Counter Terrorism’ yang dihadiri para menteri negara-negara kawasan. Salah satu hasilnya yaitu ’Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation’ yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kemampuan operasional para petugas penegak hukum di kawasan guna memerangi transnational crime, khususnya terorisme.
            Hubungan Indonesia-Australia dalam empat tahun terakhir ini telah menunjukan kemajuan yang signifikan, yaitu dengan diciptakannya hubungan yang semakin realistik berdasarkan kerja sama kelembagaan dan saling kunjung di antara pejabat tinggi masing-masing pemerintahnya. Kunjungan-kunjungan ini merupakan wujud peningkatan hubungan diplomatik ke arah yang lebih baik. Peningkatan ini sekaligus menjadi tanda bahwa kedua negara memasuki fase realisme positif. Artinya, meskipun hubungan kedua negara masih di liputi perbedaan-perbedaan yang dalam memandang sebuah persoalan, tetapi secara umum perbedaan tersebut dapat di selesaikan melalui meja perundingan
            Indonesia-Australia kembali mengukuhkan kerjasama keamanan dalam bentuk Framework Agreement on Security Cooperation yang di tanda tangani di pulau Lombok pada 13 November 2006, penandatanganan kerja sama keamanan Indonesia-Australia di Pulau Lombok bukan tanpa makna, karena dari aspek strategis Selat Lombok merupakan jalur yang dapat mempengaruhi keamanan nasional Australia.

B. Hubungan Indonesia-Malaysia
  1. Latar Belakang
            Hubungan Indonesia dan Malaysia yang terus pasang surut terus menjadi  sinyal penting bagi perlunya refleksi terhadap kebijakan politik luar negeri Bebas Aktif, dalam berbagai perselisihan dengan Malaysia, Indonesia tidak terlihat aktif dalam mengambil peran. Sikap yang cenderung pasif itu membuat Indonesia tidak memperlihatkan dirinya sebagai negara besar. Krisis multidimensi yang belum juga teratasi tidak boleh di jadikan alasan untuk membiarkan kedaulatan Indonesia di cabik-cabik.
            Kemiripan etnis, nasib, agama, bahasa, serta posisi geografis yang bersebelahan menjadikan keduanya merasa sebagai saudara yang harus saling menolong. Dalam komunitas ASEAN sendiri Indonesia di anggap sebagai saudara tua, tapi kini saudara tua itu terlalu banyak mengalah. Sementara adik-adiknya berkembang sedemikian pesatnya hingga jauh meninggalkan sang kakak. Sikap mengalah Indonesia, di manfaatkan Malaysia untuk mengambil keuntungan, meskipun harus melupakan pranata sosial dalam hubungan persaudaraan. Ketika Indonesia jatuh dalam kesulitan, bukannya Malaysia berusaha menolongnya, melainkan memanfaatkannya.

  1. Hubungan Indonesia-Malaysia (2000-2007)
            Pada waktu kemeriahan Hari Ulang Tahun Malaysia ke-50, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilih membatalkan kehadirannya untuk menghadiri upacara penting itu. Semasa itu, hubungan Indonesia-Malaysia sedang hangat merebak isu pemukulan juru latih Indonesia oleh anggota polisi ketika menghadiri kejuaraan di Negeri Sembilan. Isu ini bertambah panas apabila timbul salah faham mengenai permohonan maaf dari Malaysia.
            Demonstrasi dan ancaman menghapus rakyat Malaysia merebak ke pelbagai daerah di republik ini. Akibat isu ini juga, beberapa program yang melibatkan kedua pihak Indonesia dan Malaysia terpaksa di batalkan atau di tangguhkan sementara menunggu keadaan kembali reda. Selepas lebih empat bulan dan keadaan kembali reda, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewakili 240 juta penduduk Indonesia memenuhi agenda tahunan pertemuan pemimpin peringkat tertinggi Malaysia-Indonesia.
            Kemiskinan ini telah memberikan andil mengantarkan anak-anak bangsa terpaksa hijrah sementara ke Malaysia sekadar menyambung hidup, dan rela menjadi pembantu atau buruh. Entah kebijakan apalagi yang akan di lakukan oleh Malaysia kepada warga Indonesia yang berada di sana. Derita demi derita terus terjadi dengan intensitas yang semakin meningkat, kasus Bonar dan Ceriyati telah cukup menggambarkan duka mendalam anak bangsa ini dalam upaya meraih sesuap nasi.
            Hubungan dua saudara ini sekarang banyak di warnai oleh pola penganiayaan lantaran Indonesia di anggap lebih rendah sebagai sesama manusia. Merebaknya penggunaan kata Indon (yang tentu saja berkonotasi rendah) dan kasus kekerasan adalah salah satu wujud dari anggapan ini. Jelas hal ini bukanlah refleksi sebagai saudara. Tampaknya, paguyuban sebagai sokoguru dalam persaudaraan telah di buang jauh, dan di ganti dengan prinsip patembayan, sebuah hubungan yang impersonal, di mana sebuah masalah yang muncul di selesaikan atas dasar prinsip hukum formal yang berlaku. Padahal mestinya hubungan persaudaraan menghendaki paguyuban dan penyelesaian masalah berasas pada kekeluargaan dan saling memahami.
            Arogansi Malaysia tidak dapat di tutupi lagi dengan kata-kata apologis, terlebih lagi ketika kasus-kasus kekerasan serupa menimpa para duta bangsa, apakah itu wasit Donald Luther Colopita atau keluarga duta bangsa yang lain, yang semestinya mendapatkan perlindungan dan kekebalan diplomatik. Kini muncul pula kasus batik dan lagu Rasa Sayange yang kini justru menjadi lagu resmi promosi pariwisata Malaysia. Kerikil-kerikil dalam hubungan bilateral ini ternyata telah menyulut konflik horizontal antara masyarakat Indonesia dan Malaysia meski baru sebatas saling lempar kata.
            Kunjungan kerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Malaysia membuahkan beberapa kesepakatan dengan Perdana Menteri Malaysia. Kedua pemimpin pun sepakat untuk mengakhiri pertikaian yang ada menyangkut sejumlah isu kontroversial yang selama ini mengganjal hubungan kedua negara.
            Isu penting pertama adalah tuduhan bahwa Malaysia mencuri budaya Indonesia. Untuk masalah ini di putuskan Indonesia dan Malaysia akan membentuk dewan khusus beranggotakan tujuh orang dari masing-masing negara. Dewan ini akan membahas isu tersebut lebih lanjut dengan mengutamakan persamaan bukan perbedaan sebagaimana imbauan PM Badawi. Isu penting kedua yaitu menyangkut tenaga kerja Indonesia di Malaysia, untuk masalah ini Badawi memastikan adanya peningkatan kualitas perlindungan hukum. Selain itu, Indonesia dan Malaysia juga sepakat membentuk komite kerja sama untuk meningkatkan perdagangan dan penanaman modal yang di ketuai Menteri Perdagangan kedua negara.

C. Kesimpulan
            Pasang surut hubungan Indonesia-Australia di pengaruhi  kepentingan politik Australia, yang merupakan sektor penting bagi dunia Barat di Asia-Pasifik dan Perbedaan sistem politik antara kedua negara, pandangan dan filsafat mereka juga berbeda. Walaupun sebenarnya antara Indonesia dan Australia saling memiliki kepentingan strategis, dan terpeliharanya hubungan bilateral yang lebih baik dengan Australia akan ikut membantu membentuk stabilitas politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Tetapi kepentingan strategis Australia di sini adalah menghendaki Australia memiliki akses kuat dan luas di Asia, bahkan bertujuan memiliki posisi dominan di Asia Tenggara. Kedekatannya dengan Asia, akan lebih mendukung kepentingan Australia sebagai bagian dari strategi global Barat di kawasan Asia-Pasifik.
           
            Berbeda dengan hubungan antara Indonesia-Malaysia, pasang surut hubungan tersebut banyak di pengaruhi karena perasaan satu rumpun konon kedua bangsa ini di ikat dengan ikatan persaudaraan. Kemiripan etnis, agama, bahasa, serta posisi geografis yang bersebelahan menjadikan keduanya merasa sebagai saudara yang harus saling menolong. Dengan keadaan seperti ini sangatlah mudah terjalin suatu hubungan yang harmonis maupun tidak, karena anggapan satu rumpun itu, suatu kebudayaan akan dapat dengan mudah di akui sebagai kebudayaannya. Kejadian seperti ini dapat menimbulkan suatu konflik antar negara. Tetapi apabila suatu hubungan tersebut dapat tercipta dengan baik maka akan tebentuk sebuah kerjasama dua saudara yang saling tolong-menolong sebagai seorang saudara.
           
DAFTAR PUSTAKA

Irsan, Abdul, 2007, Indonesia di Tengah Pusaran Globalisasi, Jakarta : Grafindo
Fernandes, S. Frans, 1988, Hubungan Internasional dan Peranan Bangsa Indonesia Suatu Pendekatan Sejarah, Jakarta : Depdikbud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar